INSTALASI, KONFIGURASI, DAN PENGENALAN LARAVEL #7

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Konnichiwa, mina-san!

Pada praktikum ke-7 mata kuliah pemrograman web semester 4 jurusan informatika, saya mempelajari dan mencobakan instalasi dan konfigurasi framework Laravel menggunakan Composer, XAMPP, Cmder, Node.js dan NPM, serta Git yang nantinya akan langsung terkoneksi ke VS Code. Namun, kita perlu memahami terlebih dahulu apa itu Laravel dan mengapa menggunakan/memilih Laravel sebagai framework.

Laravel adalah salah satu framework PHP yang paling populer dan banyak digunakan saat ini. Laravel dikembangkan oleh Taylor Otwell yang menawarkan berbagai fitur unggulan yang menjadikannya pilihan banyak pengembang. Framework ini dirancang untuk mempermudah dan mempercepat proses pengembangan aplikasi web dengan menyediakan struktur kode yang rapi, fitur bawaan yang lengkap, serta dokumentasi yang sangat baik. Laravel menawarkan berbagai fitur unggulan seperti routing yang fleksibel, sistem templating Blade, Eloquent ORM untuk interaksi basis data, autentikasi dan otorisasi bawaan, serta dukungan untuk testing.

Salah satu fitur utamanya adalah Eloquent ORM, yaitu sistem Object-Relational Mapping yang mempermudah interaksi dengan database menggunakan sintaks PHP yang intuitif. Anda bisa dengan mudah membuat model untuk setiap tabel dan melakukan operasi CRUD, bahkan mendefinisikan relasi antar tabel. Selain itu, Laravel juga menyediakan Blade, sebuah templating engine yang ringan namun sangat powerful, memungkinkan pembuatan tampilan HTML dinamis dengan sintaks yang rapi dan aman.

Laravel juga dilengkapi dengan Artisan Console, yaitu command-line interface (CLI) yang menyediakan perintah bawaan untuk berbagai kebutuhan seperti membuat model, controller, migration, hingga menjalankan testing. Dalam hal pengaturan URL, Laravel memiliki sistem Routing yang fleksibel dan mendukung penggunaan middleware untuk mengatur hak akses dan validasi request.

Fitur Middleware membantu memproses request yang masuk sebelum diteruskan ke controller, misalnya untuk autentikasi atau logging. Laravel juga menyediakan Form Request Validation untuk memvalidasi input dari form dengan cara yang terstruktur dan mudah dipelihara. Dari sisi keamanan, Laravel sudah dibekali proteksi terhadap CSRF, XSS, dan SQL Injection.

Untuk proses autentikasi dan otorisasi, Laravel menyediakan sistem bawaan yang lengkap, termasuk paket seperti Breeze, Jetstream, serta Passport untuk OAuth2 dan Sanctum untuk otentikasi berbasis token. Laravel juga mendukung integrasi login sosial menggunakan Socialite.

Dalam hal performa dan efisiensi, Laravel memiliki fitur Queue untuk menangani proses berat secara asynchronous, Caching untuk menyimpan data sementara agar aplikasi lebih cepat, serta Task Scheduling untuk menjadwalkan tugas otomatis. Laravel juga mendukung Event & Listener yang menerapkan pola Observer, memungkinkan tindakan otomatis saat event tertentu terjadi.

Laravel sangat mendukung pengembangan aplikasi realtime melalui fitur Broadcasting dan integrasi dengan layanan seperti Pusher. Untuk komunikasi pengguna, Laravel memiliki sistem Notification yang dapat mengirim pesan melalui email, SMS, atau aplikasi pihak ketiga.

Fitur lainnya termasuk Filesystem untuk pengelolaan file lokal atau cloud, Mail untuk pengiriman email, Localization untuk mendukung aplikasi multibahasa, dan ekosistem Package yang luas melalui Composer untuk menambahkan fitur tambahan dengan mudah.

Alasan banyak developer memilih Laravel adalah karena kemudahan penggunaannya, komunitas yang besar dan aktif, serta ekosistem yang luas seperti Laravel Mix, Laravel Forge, dan Laravel Nova. Dengan Laravel, pengembangan aplikasi web menjadi lebih efisien, aman, terstruktur, dan scalable, sehingga cocok digunakan baik untuk proyek kecil maupun besar.

PERSIAPAN INSTALASI TOOLS

Sebelum memulai membuat proyek, kita harus terlebih dahulu mempersiapkan tools/lingkungan development, barulah membuat proyek baru dan melakukan konfigurasi awal Laravel. Laravel sendiri memiliki persyaratan minimal instalasi. Persyaratan Laravel 12 (terbaru) yakni:

✓ PHP >= 8.2
✓ Ctype PHP Extension
✓ cURL PHP Extension
✓ DOM PHP Extension
✓ Fileinfo PHP Extension
✓ Filter PHP Extension
✓ Hash PHP Extension
✓ Mbstring PHP Extension
✓ OpenSSL PHP Extension
✓ PCRE PHP Extension
✓ PDO PHP Extension
✓ Session PHP Extension
✓ Tokenizer PHP Extension
✓ XML PHP Extension

Selain itu, ada beberapa tools yang perlu dioasang, yaitu Git, Composer, dan Cmder (khusus Windows), kemudian juga membutuhkan hal-hal sebagai berikut.
✓ Web Server (Nginx atau XAMPP)
✓ MySQL sebagai basis data
✓ PhpMyAdmin sebagai database client GUI untuk mengelola basis data

INSTALL CMDER

Pertama-tama, kita dapat mengunduh Cmder sebagai terminal/command line saat memasang dan melakukan konfigurasi proyek Laravel.

INSTALL XAMPP

Setelah Cmder terpasang, kita lanjut memasang XAMPP dengan mengikuti langkah-langkahnya. Setelah berhasil, maka akan muncul folder htdocs secara default pada C:\xampp\htdocs yang nantinya akan digunakan untuk membuat proyek-proyek Laravel. Dengan memasang XAMPP, maka secara otomatis webserver apache, PHP, dan phpMyAdmin juga telah terpasang. Untuk terhubung dengan database, maka tampilan XAMPP yang sudah terpasang harus seperti ini.

CEK VERSI PHP

Next, kita dapat mengecek versi PHP yang terpasang dengan mengetik perintah berikut di Cmder.

Perintah php –version digunakan untuk mengecek versi PHP yang terpasang di sistem. Dari hasil yang ditampilkan, diketahui bahwa PHP versi 8.2.12 telah berhasil terinstal. Perintah ini berguna untuk memastikan bahwa PHP sudah terinstal dengan benar, mengetahui versi PHP yang digunakan (yang penting untuk kompatibilitas dengan Laravel versi terbaru yang membutuhkan minimal PHP 8.1), serta melihat informasi build seperti compiler yang digunakan, dalam hal ini Visual C++ 2019.

INSTALL COMPOSER

Kemudian, kita dapat memasang Composer yang merupakan package manager untuk PHP. Composer akan digunakan untuk menambahkan package-package yang dibutuhkan pada saat development. Unduh dan pasang Composer dengan mengikuti langkah-langkah yang telah diinstruksikan.

Setelah itu, kita dapat mengetik perintah composer –version untuk mengecek composer versi berapa yang sudah terpasang.

INSTALL GIT

Langkah selanjutnya adalah pasang Git untuk membantu Composer mengunduh source code Laravel dan dependensi lainnya yang berasal dari repositori Git seperti GitHub. Selain itu, Git juga berguna untuk mengelola versi proyek Laravel, sehingga kita bisa menyimpan, melacak, dan mengatur perubahan kode selama proses pengembangan. Kita dapat mengecek versi Git dengan mengetikkan perintah
git –version.

INSTALL NODE JS DAN NPM

Kita bisa memasang Node JS dan NPM juga akan otomatis ikut terpasang. Node JS pada Laravel berfungsi untuk menangani masalah frontend dan build asset UI (Library UI). Sederhananya, Node.js dalam Laravel berfungsi untuk membantu mengelola tampilan antarmuka (UI) seperti CSS dan JavaScript. Jadi, Node.js dipakai untuk mengatur dan membangun aset-aset tampilan agar website Laravel terlihat rapi, cepat, dan modern, sementara NPM (Node Package Manager) berfungsi mengelola paket untuk ekosistem JavaScript, seperti menginstal dan mengatur tool atau plugin frontend seperti Bootstrap, Tailwind CSS, atau Vue.js, sehingga proses pengembangan tampilan jadi lebih mudah dan teratur. Kita dapat mengecek versi Node.js dan NPM dengan mengetikkan perintah node –version dan npm –version.

Setelah semuanya terpasang dengan benar, kita bisa pergi ke laman localhost berikut untuk mengecek apakah semua persyaratan yang dibutuhkan untuk memasang Laravel 12 terpenuhi sehingga bisa dipasang.

INSTALL LARAVEL

Ada beberapa cara untuk membuat proyek Laravel, yaitu kita bisa menggunakan installer atau menggunakan composer.

Cara pertama, kita bisa ketik perintah berikut pada Cmder:
composer global require laravel/installer
Dan untuk membuat proyek baru bisa dengan perintah laravel new example-app

Cara kedua, kita dapat membuat proyek Laravel dengan perintah berikut:
composer create-project laravel/laravel=^versi nama-project –prefer-dist

Nah, dari dua cara ini, ada perbedaannya, lho! Perbedaan antara dua cara tersebut terletak pada tools yang digunakan untuk membuat proyek Laravel dan fleksibilitas penggunaannya.

Cara pertama menggunakan Laravel Installer. Dengan perintah composer global require laravel/installer, kita menginstal tool khusus bernama Laravel Installer secara global di device. Setelah itu, kita bisa membuat proyek baru hanya dengan perintah singkat seperti laravel new example-app. Cara ini lebih cepat karena Laravel Installer akan menggunakan cache lokal saat membuat proyek, sehingga proses instalasi tidak selalu perlu mengunduh ulang semua file dari internet.

Sedangkan, cara kedua langsung menggunakan Composer tanpa memasang Laravel Installer. Perintah composer create-project laravel/laravel=^versi nama-project –prefer-dist digunakan untuk mengunduh dan membuat proyek Laravel versi tertentu secara langsung dari repositori Laravel. Metode ini lebih fleksibel karena memungkinkan kita memilih versi Laravel yang spesifik, tetapi biasanya sedikit lebih lama karena semua file diunduh langsung dari awal. Dan dengan perintah ini, pemasangan Laravel langsung otomatis dipilih versi yang paling stabilnya.

Singkatnya, Laravel Installer cocok untuk membuat proyek Laravel secara cepat dan praktis, sedangkan Composer create-project lebih fleksibel dan cocok digunakan saat ingin menentukan versi Laravel secara spesifik dan stabil.

Saya menggunakan cara kedua, dengan membuat folder bernama praktikumlaravel1, untuk tampilannya di Cmder yakni sebagai berikut.

Setelah berhasil membuat proyek Laravel, selanjutnya masuk ke dalam direktori project Laravel dan mengetikkan perintah berikut untuk memasang NPM dan running NPM secara langsung bersamaan dengan perubahan kode yang otomatis dijalankan.

Lanjut, kita dapat mengetik perintah php artisan serve untuk melihat server dijalankan di mana.

Jika tautan server diklik, maka akan muncul tampilan seperti berikut.

Setelah langkah-langkah tersebut selesai, kita bisa buka VS Code dengan nama folder yang sudah dibuat di Cmder tadi. Jika berjalan dengan benar, maka tampilan struktur folder yang sudah terpasang Laravel akan seperti berikut.

Tambahan:

Jika kita ingin membuat file Model tambahan, kita bisa mengetik perintah php artisan make:model namaFileModel. Model berfungsi untuk mengakses dan mengelola data atau database seperti query ke database, insert, update, delete, dll.

Dan terdapat juga Controller, untuk membuat file baru Controller, dapat mengetik perintah php artisan make:controller NamaController. Controller berfungsi untuk menangani request dan respons, menerima request dan memproses request, kemudian mengembalikannya dalam bentuk data atau view dari suatu model.

Terdapat juga Views.

View berfungsi sebagai tampilan atau antarmuka aplikasi, yaitu menampilkan data yang didapatkan dari suatu model melalui controller.

Demikian pemaparan praktikum 7 pemrograman web kali ini. Silakan berikan saya kritik dan saran yang membangun dengan memberikan komentar pada laman komentar blog ini.

Arigatou gozaimasu!

1 thought on “INSTALASI, KONFIGURASI, DAN PENGENALAN LARAVEL #7”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top